Yudisulistiyo’s Weblog

Semangat terus ya buat kuliah!!!!

Tugas Kontek(Kemajuan Teknologi Dalam Bidang Militer)

 

Teknologi Canggih Karya Anak Bangsa Indonesia

 

Kemampuan anak bangsa Indonesia untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi komunikasi informasi sebenarnya tidak kalah hebat dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk negara maju sekalipun.

Di berbagai pelosok Indonesia, banyak sekali kemampuan yang terus dikembangkan tanpa banyak promosi, menghadirkan berbagai solusi untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh berbagai perusahaan ataupun lembaga pemerintahan. Persoalannya, sering kali kemampuan anak bangsa ini tidak pernah memperoleh tempat yang memadai dan diakui oleh anak bangsa lain yang kebetulan menjadi pengambil keputusan di tingkat perusahaan ataupun pemerintahan. Atau, karena keteguhan hati untuk berbisnis secara lurus dan legal, sering kali mereka tersingkir dalam tender karena kalah dalam “uang jago” dan berbagai faktor penyimpangan kronis lain dalam cara berbisnis yang sarat dengan korupsi dan kolusi yang berkepanjangan. Bahkan, untuk menjadi berbeda di tengah globalisasi dan dinamika kemajuan teknologi komunikasi informasi, di Indonesia dianggap sebagai sebuah keanehan. Kebanyakan orang condong untuk bersikap konservatif dan dalam konteks pengembangan perangkat lunak, condong untuk mengikuti arus yang dianggap sebagai kebutuhan umum dengan mengembangkan berbagai aplikasi sejenis enterprise resource planning (ERP), customer relationship management (CRM), dan lainnya. Artinya, sedikit sekali rumah perangkat lunak (software house atau sering juga disebut sebagai independent software vendor) yang berani menyimpang untuk menghasilkan produk perangkat lunak yang tidak umum dan lazim, dan tidak melulu hanya mengembangkannya mengikuti arus bisnis yang berlaku di lingkungan sekitarnya. Penyimpangan sendiri sering kali memang menjadi tantangan yang menarik. Di sisi lain, penyimpangan dari apa yang berlaku pun mampu menghasilkan produk-produk yang istimewa, memberikan solusi komprehensif bagi penggunanya, serta menjadi produk istimewa hasil karya anak bangsa yang membanggakan.

 

Teknologi keputusan

 

Menjadi berbeda merupakan tantangan tersendiri bagi Infoglobal Group yang dimulai sebagai software house di Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Sebagai kelompok, perusahaan perangkat lunak yang asli Indonesia dikembangkan oleh anak bangsa ini memiliki tiga perusahaan, masing-masing PT Infoglobal AutOptima (IAO), PT Infoglobal Teknologi Semesta, dan PT Global Performa Maksima. Kelompok pengembang perangkat lunak ini dimulai dengan didirikannya IOA pada tahun 1990 oleh sekelompok alumni dan pengajar Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) yang berpusat di Surabaya. Perusahaan yang didirikan ini dikembangkan untuk menjadi pengembang perangkat lunak sebagai solusi teknologi informasi serta mengarah agar produknya menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai decision technology. Bahtiar H Suhesta, Corporate Secretary Infoglobal Group, kepada Kompas di Surabaya menjelaskan bahwa tiga kata singkatan perusahaan, IAO, yang terdiri dari informasi, otomatisasi (automation), dan optimisasi menjadi roh mengembangkan produk perangkat lunak yang dipercaya akan mengarah pada era di mana pengambilan keputusan akan dilakukan dengan menggunakan teknologi. Selama ini IAO berhasil mengembangkan berbagai aplikasi perangkat lunak untuk berbagai kebutuhan di sektor energi, pertambangan, dan militer. Setidaknya, ada empat aplikasi yang dibuat dan dikembangkan menjadi sebuah sistem yang andal, masing-masing terdiri dari SIL2004.sebagai sistem informasi pelanggan untuk keperluan PT PLN, sistem berbasis web untuk meningkatkan produktivitas perusahaan minyak dan gas di bawah PT Global Performa Maksima, SOYUS sebagai sistem simulasi pertempuran udara, serta TDAS sebagai sistem transmisi situasi data udara.Pengembangan perangkat lunak SOYUS (awalnya merupakan singkatan Sistem Olah Yudha untuk Seskoau) dan TDAS (Transmission Data Air Situation) adalah produk paling canggih dan bernuansa teknologi tinggi (hi-tech) yang dibangun menggunakan teknologi kelas perusahaan berbasis teknologi .Net buatan Microsoft serta memanfaatkan sistem DirectX secara ekstensif untuk keperluan simulasi grafik berbasis tiga dimensi. Pada sistem solusi decision technology TDAS yang sudah digunakan oleh Komando Pertahanan Udara, IAO mampu untuk menggabungkan infrastruktur sistem radar militer dan sipil yang tersebar di seluruh Indonesia, serta menghasilkannya menjadi tampilan wilayah udara Indonesia secara terintegrasi. Artinya, sistem aplikasi berbasis decision technology ini mampu memberikan situasi sebenarnya wilayah udara nasional Indonesia dan mendeteksi terjadinya penyusupan udara oleh pesawat-pesawat asing. Bahkan, sistem ini pun mampu menyimulasi jalur pacu sebuah pesawat terbang yang berada di wilayah Indonesia sehingga pada situasi khusus, seperti kecelakaan dan sejenisnya, mampu ditampilkan ulang untuk kepentingan evaluasi dan simulasi. Aplikasi canggih lainnya buatan IAO adalah SOYUS yang dirancang untuk keperluan Sekolah Staf dan Komando TNI AU (Seskoau) sebagai sebuah sistem war gaming yang terintegrasi dan waktu sesungguhnya (real time), memungkinkan para perwira TNI AU melakukan perencanaan dan komando pada tingkat strategis, taktis, dan operasional. Aplikasi SOYUS memiliki sistem manajemen data perlengkapan angkatan udara, kemampuan supervisi, kemampuan perencanaan operasi, serta bersifat dinamis melakukan berbagai kalkulasi rumit sebuah serangan udara. Dikembangkan selama dua tahun dan menghabiskan biaya sekitar Rp 1 miliar, SOYUS adalah sistem tercanggih yang bisa jadi menjadi sebuah permainan simulasi online game yang setara dengan Counter Strike ataupun Ragnarok. Aplikasi SOYUS ini juga bisa melibatkan berbagai kekuatan militer (laut, udara, dan darat) ke dalam sistem olah yudha ini, dan selama ini hanya dikembangkan oleh lima programmer. Kedua sistem ini, TDAS dan SOYUS, membuktikan bahwa anak bangsa Indonesia juga bisa mengembangkan sistem aplikasi dengan kualitas dunia yang perlu didukung sepenuhnya oleh siapa saja.

Antisipasi Menghadapi Perang Modern

“Asymmetrical Warfare”

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah dijadikan grand strategy oleh sejumlah negara untuk membangun kekuatan tempurnya. Pemanfaatan unsur informasi menyebabkan terbukanya peluang terjadinya perang informasi atau information warfare di masa yang akan datang. Untuk mengantisipasi menghadapi perang informasi, Mabes TNI melaksanakan seminar sehari tentang C4ISR (Command, Control, Communication, Computers, Intelligence, Survellance &Reconaisence) di Gedung Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap.

Menurut Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto, pertempuran informasi dengan penguasaan informasi sebagai bagian dari asimmetrical warfare dianggap banyak ahli strategi perang sebagai kiat persiapan perang berbiaya rendah dengan dampak yang sangat luas. Kiat pengumpulan data dan informasi menjadi penting, curi mencuri informasi kemudian merupakan hal yang pasti. Kemampuan untuk dapat menjaga data dan informasi menjadi sangat mutlak, sama mutlaknya dengan kebutuhan untuk mengacaukan system informasi lawan dengan cara menyusup data dan informasi salah.

Menghadapi kecenderungan ini, TNI harus mulai berpikir dan mengambil tindakan antisipasi yang pasti, bukan hanya terhadap potensi ancaman perang secara tradisional tetapi juga mengantisipasi kemungkinan penggelaran perang modern yang mengacu pada gaya asymmetrical warfare khususnya melalui kiat perang informasi yang datangnya kerap tidak bisa dilihat atau dirasakan kecuali setelah menimbulkan kerugian yang pasti. Ancaman permanen atas keutuhan wilayah kedaulatan NKRI seperti pada penggeseran patok batas wilayah kedaulatan dan persengketaan tapal batas hingga penguasaan/pendudukan wilayah secara illegal, penyusupan manusia dan ideologi asing, penyelundupan uang, bahan peledak dan senjata, pengacau keamanan melalui kiat lintas batas negara termasuk aktifitas terorisme serta kebocoran rahasia penting negara adalah bagian dari hal-hal yang secara langsung harus ditangani lebih serius. Kegiatan perang informasi yang digelar lawan, dapat menyebabkan misalnya, pergeseran patok-patok batas wilayah NKRI tidak dilakukan oleh negara asing, tetapi oleh warga negara sendiri yang sudah terkecohkan oleh informasi salah satu melalui kiat operasi psikologi. Contoh lain penyelundupan uang untuk melancarkan suatu operasi social engineering melalui media elektronik adalah hal kini sangat dimungkinkan.

Saat ini menurut Panglima TNI makin terasa bahwa dalam konteks pelaksanaan tugas, peran dan tanggung jawab insan dan institusi TNI dalam kegiatan pertahanan hingga pelaksanaan operasi-operasi militer, sangat membutuhkan suatu peningkatan kapasitas dan kapabilitas di bidang sarana dan prasarana termasuk SDM, khususnya dibidang yang berkaitan dengan kiat-kiat intelijen.

Untuk itu, SDM kita harus bisa mengantisipasi, mengikuti dan mengimbangi secara taktis perkembangan dan pertumbuhan teknologi intelijen yang semakin pesat dan modern. Bukan satu hal yang aneh bila SDM TNI perlu dilatih untuk dapat mempelajari kemampuan fasilitas tempur lawan dalam suatu misi militer dan menggunakannya untuk menghancurkan lawan. Inilah sebabnya, perhatian terhadap fasilitas alut sista dan kesiapan SDM khususnya yang berkenaan dengan peralatan dan optimalisasi pemanfaatan fasilitas K3I yang saat ini masih dijadikan salah satu andalan sistem pertahapan TNI, perlu diprioritaskan dan disiasati dengan tepat dan benar sehingga bisa menunjukkan potensi manfaat yang pasti, dimana selanjutnya harus mampu memunculkan deterrence factor yang baru.

Fasilitas K3I yang sudah ada saat ini secara bertahap harus ditingkatkan menjadi C41SR (Command, Control, Communication, Computers, Intelligence, Surveillance & Resonance) dan dikemudian hari bisa ditingkatkan lagi menjadi architecture framework system yang lengkap dan berdaya. Kebutuhan peningkatan ini muncul bukan hanya dari antisipasi terhadap faktor ancaman di depan, akan tetapi untuk mengantisipasi perubahan teknologi yang tidak bisa dihindari, dimana sekali waktu sistem yang masih dipergunakan TNI saat ini tidak lagi dapat diperbaiki atau diperbaharui karena sudah tidak lagi dibuat oleh pabriknya dan sudah terlalu kuno yang tentunya akan menjadi kendala tersendiri.

Fasilitas-fasilitas TNI saat ini seperti ; Surveillance and Reconnaissance System, Special Target Movement Monitoring System, Terrestrial Border Monitoring Systems, dan UAV, masih bisa ditingkatkan dengan fasilitas tambahan seperti Unmanned Operated Surveillance and Reconnaissance System, maritime Un-manned Vehicle hingga Robotic Operation System yang disebut-sebut sebagai The Future Combat System. Namun terlepas dari peran masing-masing instumen dimaksud, saat ini dibutuhkan kemampuan pengintegrasian sistem-sistem yang telah dimiliki TNI secara tepat dan benar.

Pengembangan dan peningkatan pemberdayaan system K3I dalam lingkungan Mabes TNI yang telah ada saat ini menjadi sistem C4ISR berbasis jaringan terpusat (network centric), perlu untuk direncanakan dengan baik. Pemanfaatannya dikemudian hari harus bisa memungkinkan dilakukannya kegiatan yang tidak terbatas hanya pada komando, control, komunikasi dan intelijen saja, akan tetapi lebih jauh memastikan terjadinya kemampuan koordinasi serta peningkatan kinerja intelijen yang boleh jadi ditambah pemanfaatan system Surveillance and Reconnaisancenya secara real time.

Sementara menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, bidang TIK baik pengembangan maupun pemanfaatannya mempunyai peran penting dalam pembangunan suatu negara. Sektor TIK, selain menawarkan berbagai peluang untuk menciptakan nilai tambah di sektornya, juga merupakan “enabler” di semua sektor lainnya, yang langsung berpengaruh pada tingkat daya saing suatu negara, termasuk didalamnya daya saing pada sektor pertahanan dan keamanan.

Menyadari luasnya dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan bidang informasi dan komunikasi, sudah sewajarnya setiap negara termasuk Indonesia perlu menyiapkan masyarakatnya untuk mampu menghadapi pergeseran ini serta memanfaatkan berbagai peluang dan siap menghadapi berbagai ancaman baru yang muncul dari perkembangan ini.

Kecepatan bertindak serta keputusan berdasarkan data akurat kian menjadi unsur penting dan signifikan dalam membangun suatu sistem Hankam di saat ini dan dimasa mendatang. Dipihak lain, jumlah data dan informasi yang perlu dilibatkan dalam suatu keputusan menjadi kian besar dan kompleks. Menghadapi dua kenyataan ini, berbagai negara saat ini berlomba-lomba ingin membangun suatu sistem C4ISR (Command, Control, Communication, Computers, Intelligence, Surveillance & Reconnaisance) yang terintegrasi dengan memanfaatkan TIK(Teknologi Informasi Komputer)

Dengan TIK yang berkembang saat ini, suatu jaringan sistem intelligence, surveillance & reconnaissance, dapat dengan mudah dapat mengirimkan berbagai informasi secara digital dan real time ke berbagai unit lainnya untuk mendapatkan keputusan lebih lanjut dengan cepat dan akurat, jelas Kusmayanto.

Konvergensi yang terjadi di sektor TIK dapat dimanfaatkan untuk membangun suatu sistem C4ISR secara nasional yang terintegrasi secara luas dari mulai sistem sensor paling depan, sistem pengolahan, sistem pengendalian sampai dengan sistem persenjataannya, untuk menjawab berbagai kebutuhan yang muncul baik saat ini maupun dimasa mendatang.

Dalam bidang pertahanan keamanan menurut Menristek, dapat dikategorikan sebagai suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara-cara berfikir yang tidak lazim dan diluar aturan-aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup seluruh aspek. Pilihan ini sebagai dasar untuk mengembangkan strategi keamanan nasional dan tanpa diimbangi dengan pengembangan kekuatan non phisik akan menghadapi resiko kehancuran terhadap ancaman asimetri [asymmetric threat].

Dengan meningkatnya berbagai peluang sekaligus ancaman di era globalisasi ini, sudah sewajarnya Indonesia menikatnya kemampuan untuk menjaga pertahanan dan keamanannya dengan membangun system yang handal dan terintegrasi memanfaatkan berbagai teknologi yang tersedia untuk menjawab berbagai kebutuhan yang dihadapi, antara lain untuk mengatasi :

  1. Penangkapan ikan dan penebangan kayu illegal.

  2. Early warning system menghadapi bencana alam dan ancaman

  3. Maritime surveillance.

  4. Ancaman terhadap daerah perbatasan dan lain-lain.

 

Tanpa usaha untuk membangun sistem terintegrasi demikian, kemampuan untuk mengatasi ancaman terhadap berbagai kegiatan pembangunan akan kian melemah, yang tentunya akan berakibat pada lemahnya daya saing Indonesia dalam menghadapi kompetisi di era global saat ini.

Perlu disadari bahwa pembelajaran teknologi tidak berlangsung di ruang hampa dan otomatis tapi membutuhkan kesadaran dan kemauan kuat serta terkait erat dengan sistem insentif yang memacu semua pelaku untuk melakukan pembelajaran teknologi. Kesemuannya ini menyangkut aspek perluasan industri, pengembangan kemampuan SDM, pengokohan system inovasi serta penciptaan lingkungan bisnis yang kompetitif.

Kepakaran, keahlian serta kreatifitas yang dikembangkan oleh LPND, perguruan tinggi serta berbagai institusi litbang haruslah dapat dimanfaatkan oleh sektor Hankam sebagai suatu kekuatan dalam mengembangkan berbagai sistem yang dibutuhkan. Dan sebaliknya pengalaman dan kemampuan di lingkungan Hankam haruslah dapat dimanfaatkan oleh seluruh institusi litbang untuk meningkatkan kemampuannya.

Sedang menurut Asops Kasum TNI Mayjen TNI Bambang Darmono, untuk membangun kekuatan TNI dimasa mendatang harus mempertimbangkan perkembangan teknologi informasi. Untuk kepentingan militer seperti Kodal, intelijen, pengintaian dan pengamatan, bentuk platform persenjataan telah memanfaatkan teknologi informasi baik teknologi telekomunikasi maupun teknologi computer. Hal ini perlu diantisipasi dalam rangka menghadapi perang informasi pada masa ini dan masa mendatang. Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagian integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi. Dengan demikian setiap langkah yang diambil harus ditujukan untuk mencapai keunggulan informasi. Kemajuan teknologi informasi menyebabkan terjadinya pergeseran konsep memenangkan perang. Pada awalnya, cukup dengan konsep Komando dan Kendali (Kodal/K2), yang pada prinsipnya merupakan hubungan intern antara komandan dengan anak buahnya dalam tugas operasi. Dan dalam perkembangan selanjutnya, komunikasi dengan kesatuan lain dalam operasi menjadi suatu keharusan. Maka lahirlah konsep baru yaitu Komando, Kendali, Komunikasi dan Informasi (K3I). di era 90-an, dengan kemajuan teknologi computer lahirlah konsep baru berupa Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, Pengamatan dan Pengintaian (K4IPP). Meskipun di Indonesia, K4IPP masih menjadi angan-angan, tetapi paling tidak sudah menyiratkan adanya suatu pandangan bahwa sistem informasi yang berbasiskan computer menjadi fungsi yang sangat penting dalam peperangan, jelas Bambang Darmono.

Pembangunan kekuatan TNI baik matra darat, laut dan udara, harus direncanakan secara terarah dan berlanjut baik dalam renstra jangka menengah maupun jangka panjang yang diharapkan mampu untuk menghadapi segala ancaman yang timbul baik ancaman militer maupun nonmiliter yang datang dari dalam maupun dari luar negeri. Oleh karena itu pembangunan kekuatan TNI harus dipertimbangan perkembangan lingkungan strategis dan perkiraan ancaman yang mungkin terjadi.

Kemajuan Teknologi Informasi (TI) membawa dampak yang sangat luas bagi kehidupan masyarakat saat ini. Yaitu dapat merubah cara berorganisasi, merubah cara perdagangan antar perusahaan, mengubah cara pemerintahan dan negara bahkan mengubah cara untuk berperang.

Penggunaan TI dalam sistem informasi modern memaksa pihak militer untuk meninjau kembali doktrinnya, sebab perkembangan teknologi informasi membawa perubahan mendasar bagi kepentingan intelijen, sistem pengintaian dan pengamatan, sistem komando dan kendali sehingga pola penataan strategis perangkat perang dalam perang modern perlu disesuaikan dengan kemajuan teknologi informasi tersebut.

Pemanfaatan teknologi informasi diberbagai kehidupan, khususnya dibidang militer perlu diantisipasi perkembangannya karena disatu sisi dapat membawa dampak untuk kebaikan tapi disisi lain berdampak untuk pengrusakan. Konsep-konsep pengrusakan pada sistem informasi inilah kemudian berkembang untuk dijadikan dasar bagi kepentingan perang informasi. Munculnya perang informasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi, karena sifat penggunaan sistem secara bersama (sharing), sehingga memungkinkan pihak-pihak yang tidak berkompeten pada suatu sistem dapat melakukan akses ke pihak lain tanpa mengalami kendala. Seperti diketahui teknologi informasi merupakan perpaduan dari teknologi telekomunikasi dan computer. Dengan perkembangan kedua teknologi tersebut memungkinkan orang dapat berinteraksi dari satu tempat ke tempat lain tidak perlu melihat batasan wilayah ataupun negara. Permasalahan muncul ketika pemanfaatan teknologi tersebut digunakan untuk kepentingan yang tidak pada semestinya (diselewengkan) seperti pencurian data, perusahaan data bahkan penghilangan data milik orang lain.

Dewasa ini hampir seluruh sistem yang digunakan untuk kepentingan militer seperti komando dan kendali, intelijen, pengintaian dan pengamatan, bentuk platform persenjataan telah telah memanfaatkan kedua teknologi tersebut. Tentunya untuk menjaga faktor keamanan pada sistem tersebut perlu ada upaya untuk melindunginya terhadap pihak-pihak yang berupaya untuk mengacaukan sistem tersebut. Konsep perlindungan sistem perlu ditempuh mengingat sistem tersebut selain membentuk suatu jaringan juga memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang rawan terhadap gangguan penyadapan dan pengrusakan data pada saat terjadi proses interaksi. Mengingat lompatan kemajuan teknologi informasi demikian pesatnya, maka perkembangan kedua teknologi perlu disimak secara seksama sebagai bahan antisipasi dalam menghadapi perang informasi pada abad ini.

Penguasaan perang informasi bagi suatu angkatan bersenjata mutlak diperlukan mengingat perang dimasa mendatang akan didominasi oleh strategi, teknik dan taktik pemanfaatan Perang Informasi. Seperti ada pepatah Siapa yang mengusai informasi, dialah yang akan mengusai dunia, tambah Asops Kasum TNI.

Perang modern. Perang dimasa kini dan dimasa mendatang merupakan perang modern yang cepat dan mematikan. Hal ini diperlukan kepekaan dan kecepatan dalam komando dan pengendalian. Pada era perang modern dituntut suatu pertahanan yang mendekati waktu nyata (real time) atas keadaan taktis dan mampu mengkomunikasikan secara on line ke seluruh unsur kekuatan pertahanan nasional yang ada. Perang modern juga menuntut suatu kesatuan komando yang jelas dan tertata rapi, dimana Panglima Tertinggi pemegang otoritas pertahanan harus dapat mengetahui situasi yang berlaku serta dapat mengambil keputusan secara tepat dalam waktu singkat.

Hal yang terpenting dari sistem K4IPP yaitu memberikan informasi situasional kepada pimpinan tentang lokasi dan status dari kekuatan musuh dan kekuatan kita yang perlu mendapatkan perhatian.

a. Kemampuan dari K4IPP. Kemampuan dari sistem K4IPP terdiri atas :

  1. Situational Awareness. Situasi dimana seluruh informasi unsur-unsur kekuatan sendiri berada pada lokasi tertentu dan data statusnya serta kedudukan musuh berada,

  2. Information Superriority. Informasi merupakan aset yang strategis bagi setiap organisasi. Inilah yang menyebabkan kegagalan khususnya dalam bidang pertahanan, sehingga kemampuan untuk menyediakan informasi potensial merupakan faktor yang sangat menentukan dari kekuatan pertahanan suatu negara. Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagian integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi. Dengan demikian maka setiap langkah yang diambil ditujukan untuk mencapai keunggulan informasi. b. Penggunaan Sistem K4IPP. Sistem K4IPP dipergunakan bagi pimpinan sebagai sistem komando dan pengendalian secara global, kontijensi sistem perencanaan daerah militer, sistem komando gabungan maritim dan sistem manuver.

Aplikasi K4IPP (C4ISR) dalam Medan Pertempuran. C4ISR adalah singkatan dari Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and Reconaissance. Komando dan kendali lebih menjurus pada pembuat keputusan bersifat arahan yang dilaksanakan oleh komandan guna mengatur gerak pasukannya dalam menyelesaikan misi. Peran itu didukung oleh teknologi informasi dimana computer komunikasi merupakan bagian dari C4ISR. Sistem C4ISR menyediakan kemampuan utama untuk mewujudkan situasi kesiapan komando yaitu informasi mengenai kedudukan dan kekuatan pasukan musuh dan pasukan sendiri. Oleh karenanya, C4ISR menjadi komponen yang praktis dan diperlukan untuk mencapai keunggulan ketika keputusan dibuat.

Menurut Penasehat Panglima TNI Bidang K4ISR Dr.Yono Reksoprodjo, ST.DIC, perang informasi atau information warfare adalah serangkaian kegiatan pemanfaatan dan pengaturan dari suatu informasi yang dipergunakan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif atas lawan. Hal-hal yang berkaitan dalam bentuk data dan informasi secara kolektif, upaya memastikan keabsahan suatu data atau informasi, penyebaran informasi propaganda dan informasi fitnah atas lawan, dengan tujuan untuk melemahkan kekuatan musuh hingga pencegahan atau penolakan keperluan pertukaran informasi musuh adalah kiat-kiat yang dimasukkan ke dalam kegiatan perang informasi. Bentuk-bentuk nyatanya adalah semacam kiat upaya pemanfaatan komunikasi pertukaran informasi yang dapat berakibat terpengaruhnya suatu sikap, terjadinya suatu penyangkalan atau perlindungan, suatu bentuk penipuan, atau pun suatu bentuk eksploitasi hingga penyerangan.

Informasi Saat Perang atau Information In Warfare yang juga dikenal dengan sebutan Battle Field Warfare adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan kepentingan mendapatkan dan menyampaikan data dan informasi disaat terjadinya pertempuran.

Hal-hal yang berkenaan dengan kegiatan ini biasanya mencakup kiat-kiat operasi Surveillance, Reconnaissance, Intelligence, dan hal-hal yang berkaitan langsung dalam suatu pertempuran termasuk didalamnya kegiatan pemantauan dan peramalan cuaca, strategi logistik, kondisi geografis, hingga kiat upaya pelancaran suatu bentuk perang informasi.

Lepas dari segala kemiripan dari istilahnya masing-masing, benang merah yang dapat ditarik dari semuanya adalah digunakannya “informasi” sebagai amunisi dan senjata utama untuk mencapai tujuan memenangkan pertempuran atau lebih jauh lagi suatu peperangan, dan kunci utama dari keberhasilannya terletak dari kiat pengusaan dan pengaturan dari informasi tersebut. Disinilah kemudian letak pentingnya suatu operasi informasi atau juga dikenal sebagai Operation Information, yaitu rangkaian dari kiat-kiat taktis pemanfaatan dan atau manipulasi data serta informasi melalui media atau jaringan dan infrastruktur sistem informasi.

Dr. Yono Reksoprodjo SI.DIC mendefinisikan Information Warfare (IW) atau Perang Informasi dalam tiga cakupan. Pertama, segala bentuk penyerangan terhadap fungsi-fungsi informasi, tidak peduli bagaimana caranya. Melakukan perusakan misalnya pada fasilitas piranti lunak switching telpon publik sudah dapat dikatagorikan sebagai perang informasi. Kedua, setiap upaya dalam menjaga fungsi-fungsi informasi, tidak perduli apapun caranya, terhadap potensi penyerangan, misalnya untuk pencegahan virus computer, sudah bisa dikatagorikan sebagai perang informasi. Ketiga, perang informasi adalah upaya dan bukan hasil seperti juga pengertian akan perang laut, yang bukan berupa hasil tetapi serangkaian langkah-langkah taktis. Karenanya, perang informasi adalah juga upaya untuk melaksanakan siasat penyerangan dan penjagaan yang serupa dengan perang laut dimana dilaksanakan juga kiat siasat penyerangan dan penjagaan yang taktis.

Pengertian akan Information Inf Warfare (IIW) atau Informasi Saat Perang adalah serangkaian kiat militer yang berkenaan kegiatan Intelligence, Surveillance and Reconnaisance (ISR), Ketetapan Posisi dan Navigasi, Operasi Cuaca, Operasi Hubungan Kemasyarakatan, serta berbagai kegiatan saat pertempuran seperti Combat Camera Operation dan sebagainya. Inti dari IIW adalah hal-hal yang bersifat taktis namun berpengaruh terhadap kesuksesan misi-misi strategis. Kini pengertian tentang IIW telah diadopsi oleh kepentingan sipil khususnya dalam kinerja bisnis sehari-hari. Hal ini juga telah merancukan pemakaian fasilitas-fasilitas sekaligus lintas disipliner. Pada kenyataannya, berbagai kinerja Perang Informasi yang berkenaan dengan IIW, sering dilakukan di bawah seragam masyarakat sipil.

Pengertian akan Information Operation atau Operasi Informasi adalah kegiatan yang ditujukan untuk menggelar perlawanan dengan memanfaatkan data dan informasi ataupun sistem serta jaringan informasi. Nilai sukses dari suatu operasi militer tergantung pada kiat mendapatkan dan menyusun informasi berharga termasuk mencegah perlawanan dengan cara sebaliknya. Suatu Institusi Militer bertanggung jawab untuk melaksanakan kiat pertahanan dan penyerangan melalui serangkaian Operasi Informasi.

Tanggung jawab ini termasuk tindakan menjaga informasi atas apa yang boleh dan tidak boleh keluar serta secara agresif berkemampuan untuk menyerang fasilitas system informasi lawanan untuk tujuan pre-emptive atau untuk suatu perlawanan. Bentuk-bentuk bagian dari Operasi Informasi antara lain kamuflase, operasi psikologi, operasi khusus, operasi jaringan komputer, perang elektronika.

Berbagai sumber baik insan sipil maupun militer dapat menjadi sumber ancaman karena mereka dapat melaksanakan perang informasi antara dengan melaksanakan unauthorized users, seperti Hackers, melakukan penyerangan atas system informasi walau disaat damai. Bermula dari penyerangan terhadap personal computers, namun belakangan meningkat ke jaringan dan computer terpusat. Insiders, individual yang memiliki hak akses masuk ke sistem, menimbulkan kesulitan yang sangat menyulitkan khususnya dalam memilih mana yang musti diamankan. Insiders bisa berupa karyawan tetap bisa bukan atau hanya seolah sebagai karyawan tetap. Insiders bisa menyerang system setiap saat dan setiap sudut selama ia berada di dalam instalasi atau jaringan. Hal ini mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas rancang bangun, produksi, transportasi dan jadwal perawatan setiap sarana dan prasarana termasuk bagaimana dan siapa yang melakukan pembangunannya. Terrorisme meningkatkan melalui fasilitas system informasi komersial yang tidak khusus. Tindakan mereka mencakup kiat hacking melalui kinerja destruktif atau infrastruktur strategis. Kegiatan para teroris telah dipantau memanfaatkan computer bulletin boards untuk bertukar informasi intelijen dan data teknis di atas batas wilayah internasional. Non-state groups (the New Warrior Class”) telah mengambil keuntungan dari berbagai kesempatan yang tersedia di era Information Age. Mereka selalu mendapatkan jalan mendapatkan cara-cara memanfaatkan mulai akses komersial hingga secured communication infrastructures, dari suatu tempat yang aman bagi mereka yang bisa jadi tempat itu adalah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain melakukan penyerangan terhadap lawan diluar medan tempur, kelompok ini juga pandai memanfaatkan international news media dalam mempengaruhi opini publik dunia serta membentukan suatu persepsi mengenai suatu konflik atau justru memulai terbentuknya konflik baru. Foreign intelligence services bergerak sangat aktif menjalankan Operasi Informasi khususnya dimasa damai. Mengambil keuntungan dari anonymity yang diberikan sebagai kemudahan pada fasilitas computer bulletin boards. Mereka biasanya menyembunyikan kegiatannya dengan seolah hal-hal tersebut dilakukan oleh hacker biasa. Banyak ulah mereka yang tidak langsung menyerang pertahanan militer, tetapi dilakukan atas institusi komersial atau lembaga ilmu pengetahuan dengan tujuan penguasaan kemampuan kinerja ekonomi suatu negara. Adversary activities atau kegiatan perlawanan, adalah satu hal yang kerap diasosiasikan dengan model perang tradisional yang lebih bersifat terbuka, tetapi disini kemampuan melakukan manipulasi terhadap pusat-pusat berita dimasa damai mempertegas adanya suatu situasi yang cenderung meningkat bahaya.

 

 

 

 

 

ORASI ILMIAH
IMPLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP
STRATEGI DAN MANAJEMEN PERTAHANAN

Oleh :
Peserta Kursus Manajemen Perencanaan dan Penganggaran
Pertahanan Angkatan XXII TA 2003

“If the 1980’s were about quality and the 1990’s were about reengineering, then the 2000’s will be about velocity”. (Bill Gates, At the Speed of Thought)

Pendahuluan

Saat ini, teknologi informasi sudah menyentuh setiap aspek kehidupan manusia. Teknologi informasi tidak hanya dipakai dalam bidang industri ataupun ekonomi, tetapi juga di bidang pertahanan dengan implikasi yang sangat luas terutama di tinjau dari perumusan strategi maupun penerapan manajemen. Implikasi teknologi informasi dilihat dari sisi strategi dan perumusan doktrin menyebabkan terjadinya pergeseran apa yang oleh Clausewitz disebut sebagai ” center of gravity ” yaitu dari konsep penguasaan medan kritik menjadi penguasaan informasi. Oleh karenanya hakekat ancaman pun, bergeser dari ancaman yang datang dari negara (state threat) melalui penggunaan senjata pemusnah massal menjadi kelompok (non state threat) dengan penguasaan teknologi tinggi. Sedangkan dari sisi penerapan manajemen terjadi pergeseran paradigma dari manajemen yang semula terfokus pada kualitas bergeser menuju reengineering dan terakhir mengacu pada kecepatan (velocity) melalui konsep Knowledge Management (KM).

Susjemen Rengarhan yang tengah berjalan saat ini mengajarkan salah satu topik manajemen khususnya tentang perencanaan strategik / PS (strategic planing). Inti dari kursus ini adalah latihan praktek penyusunan dokumen strategik jangka pendek berupa Daftar Usulan Kegiatan (DUK) dan Daftar Usulan Proyek (DUP). DUK dan DUP merupakan aplikasi dari perencanaan strategis, yang merupakan produk manajemen modern di era 80 an, yang saat ini sudah mulai ditinggalkan. Dalam pelaksanaan kursus ini pun, sistem pengajarannya masih menggunakan paradigma “murid belajar bila ada guru”. Dengan sistem ini maka outcome yang dicapai tidak akan maksimal apabila dibandingkan dengan sistem “self paced study” yang mampu menjamin transfer pengetahuan (knowledge) secara lebih baik.

Pusdiklatjemen dengan visinya sebagai “center of excellent” dalam bidang manajemen hendaknya menyesuaikan dengan teknologi informasi dan mengimpementasikannya dalam setiap penyelenggaraan kursusnya. Ada beberapa kemungkinan implementasi teknologi informasi mulai dari memanfaatkan teknologi dalam rangka penyusunan bahan ajaran yang mengacu pada self paced study tutorial menggunakan komputer / Computer Based Tutorial (CBT), sampai dengan pembudayaan Knowledge Management (KM). Apabila Pusdiklatjemen tidak memanfaatkan teknologi informasi dalam penyelenggaraan pendidikannya maka apa yang dicita-citakan menjadi center of excellent akan berhenti sebagai slogan belaka.

Dalam orasi ini, kami peserta Susjemen Rengarhan XXII TA 2003 akan memberikan gambaran tentang implikasi teknologi informasi dalam mendukung manajemen modern dan sekaligus memberikan kenang-kenangan kepada lembaga yang berbeda dari para peserta kursus sebelmunya. Kenang-kenangan tersebut merupakan salah satu contoh implementasi sederhana teknologi informasi dengan biaya yang relatif murah namun dapat menunjang pengambilan keputusan berdasarkan manajemen yang mengakomodasikan kecepatan (velocity)

Teknologi Informasi dan Strategi

Dewasa ini perkembangan teknologi informasi bukan lagi merupakan evolusi tetapi sudah merupakan lompatan sangat cepat (leap) yang mengagumkan. Data tahun 90 an menunjukan bahwa peningkatan kemampuan komputer menjadi dua kali lipat setiap delapan belas bulan, dan jumlah pengguna internet meningkat dua kali lipat setiap setiap tahunnya. Serat optik tunggal mampu menghantar satu setengah juta percakapan dalam waktu yang bersamaan, sedangkan compact disk (CD) mampu menyimpan data sangat besar. Kemajuan semacam ini tentunya membawa implikasi yang sangat luas dalam bidang pertahanan terutama dalam perumusan strategi dan hakekat ancaman.

1. Perumusan Strategi.

Informasi merupakan aset yang strategis bagi setiap organisasi. Inilah yang menyebabkan mengapa banyak pemerintahan ataupun badan tertentu menghabiskan jutaan bahkan miliaran dolar untuk mendapatkan informasi mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan ancaman potensial bagi keamanan mereka. Tanpa informasi yang tepat dapat menyebabkan kegagalan khususnya dalam bidang pertahanan, sehingga kemampuan untuk menyediakan informasi potensial merupakan faktor yang sangat menentukan dari kekuatan pertahanan suatu negara.

Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagia integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi. Dengan demikian maka setiap langkah yang diambil ditujukan untuk mencapai keunggulan informasi.

Kemajuan teknologi informasi menyebabkan terjadinya pergeseran konsep memenangkan perang. Pada awalnya, cukup dengan konsep Komando dan Kendali (Kodal / K2), yang pada prinsipnya merupkan hubungan intern antara komandan dengan anak buahnya dalam tugas operasi. Tetapi kemudian, ternyata komunikasi dengan kesatuan lain dalam suatu operasi menjadi suatu keharusan. Maka lahirlah konsep baru yaitu Komando, Kendali, dan Komunikasi [K3]. Dengan teknologi komunikasi yang semakin mutakhir, keterangan atau data intelijen (K3I) / Command, control, communications and intelligence (C3I). Di era 90 an, dengan kemajuan teknologi komputer lahirlah konsep Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer dan Intelijen (K4I). Meskipun di Indonesia, K4I masih menjadi angan-nagan tetapi paling menyiratkan adanya kuatu pandangan bahwa sistem informasi yang berbasiskan komputer menjadi fungsi yang sangat penting dalam peperangan. Saat ini menurut para analis, ada konsep baru yaitu Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, dan Manajemen Pertempuran (k4I / MP) sebagai satu kesatuan yang bulat dalam rangka memenangkan pertempuran. (command, control, communications, computers, intelligence and battle management -C4I / BM). Hal ini menunjukan bahwa ternyata teknologi saja tidak cukup untuk memenangkan pertempuran tetapi manajemen pertempuran juga memegang peran penting dalam memenangkan perang.

Clausewitz dengan teori center of gravity menyatakan barang siapa menguasai titik berat dialah yang memenangkan perang. Berdasarkan teori ini, perang berkembang dari waktu ke waktu sesuai perkembangan teknologi. Pada saat awal perkembangan teknologi, barang siapa menguasai medan strategis, menguasai suatu wilayah, yang dalam skala yang lebih luas, barang siapa menguasai daerah Eropa dan Balkan (heart land), menguasai dunia. Dalam tahap selanjutnya, dengan kemajuan teknologi kelautan, maka barang siapa menguasai lautan, menguasau dunia. Setelah teknologi kedirgantaraan berkembang, maka barang siapa menguasai udara, menguasau dunia. Ini terbukti dengan perlombaan yang seru antara negara adi daya untuk memajuan Angkatan Udaranya, sehingga doktrin perangnya pun berubah dengan mengedepankan serangan udara strategis. Dengan perkembangan teknologi kedirgantaraan yang semakin pesat, maka barang siapa menguasai udara dengan ketinggian 50.000 mil atau lebih, mengasai dunia. Terlebih lagi bila dapat menguasai lunar libration points atau yang lebih dikenal dengan L4 dan L5 yang merupakan tempat – tempat dimana gaya gravitasi bulan dan bumi sama besarnya. Kemajuan teknologi ini mencetuskan konsep Perang Bintang pada jaman presiden Ronald Reagan. Di era 90 an semenjak perkembangan teknologi informasi menjadi sangat pesat, maka barang siapa menguasai informasi, menguasai dunia. Inilah yang mendorong negara adi daya untuk berlomba – lomba memasuki medan peperangan yang baru yaitu perang informasi terutama dengan memanfaatkan media masa dan jaringan informasi global. Hal ini dapat dibuktikan dengan kejatuhan pemerintahan seperti Haiti dan Uni Soviet, yang tidak terlepas dari perang informasi global tersebut.

Dengan adanya perubahan konsep perumusan strategi maka sebagai konsekuensinya akan merubah manajemen terutama dari sisi cara kerja organisasi, skala organisasi, dan integrasi sistem.

Dari sisi cara kerja, organisasi militer saat ini memerlukan personel yang “pintar”, untuk mengawaki teknologi yang cukup canggih. Konsekuensinya personel militer haruslah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan orang bisnis. Sebagai bukti, hasil survei yang dilaksanakan oleh Nort Carolina’s Center for Creative Leadership menyatakan hanya 19 persen dari manager di Amerika mempunyai pendidikan post graduate. Jadi, dalam peperangan saat ini terbukti bahwa tentara tidak hanya sekedar menarik platuk saja tetapi harus mempunyai kemampuan yang cukup tinggi.

Dari sisi skala organisasi, Teknologi Informasi membuat organisasi militer menjadi lebih flat, sehingga pengendalian dapat dilakukan dengan lebih longgar. Konsekuensinya, kekuasaan pengambilan keputusan dapat diserahkan pada tingkat serendah mungkin.

Dari sisi integrasi sistem, Teknologi Informasi membuat kompleksitas pada organisasi pertahanan lebih berat dari pada sebelumnya. Kompleksitas ini dapat diatasi dengan menggunakan peranti lunak yang dirancang untuk keperluan tersebut, terutama peranti lunak Data Base. Dengan demikian integrasi sistem dalam organisasi militer menjadi lebih baik.

2. Hakekat Ancaman

Kemajuan teknologi pun menyebabkan terjadinya pergeseran hakekat ancaman. Saat ini hakekat bergeser dari yang sifatnya berasal dari negara (state threat) berideologi tertentu dengan kekuatan senjata menuju pada kelompok (non state threat) dengan tingkat penguasaan teknologi yang tinggi. Menurut Robert D. Steele dalam bukunya The Transformation of War and the Future of the Corps saat ini lawan / hakekat ancaman dikelompokkan menjadi :

a. Militer dengan sistem yang canggih dengan dukungan logistik yang sangat kuat (the high – tech brute)

b. Gabungan antara para penjahat dan teroris seperti penyelundup narkoba (the low – tech brute)

c. Kelompok massa tanpa senjata yang biasanya didorong oleh faktor agama, ideologi / SARA (the low – tech seer)

d. Gabungan antara para penjahat informasi dan spionase ekonomi dengan penguasaan teknologi yang tinggi seperti para hacker (the high – tech seer)

Dilihat dari penguasaan teknologi saat ini dunia terbagi menjadi dua kutub yaitu negara berteknologi tinggi dan negara yang relatif tertinggal secara teknologi. Penguasaan teknologi yang sangat maju justru menjadi ancaman bagi negara yang bersangkutan. Sebagai contoh, Amerika Serikat sebagai negara yang menguasai teknologi menyadari bahwa penguasaan teknologi berpotensi menjadi ancaman bagi negaranya. Seperti yang dinyatakan dalam konferensi tahunan yang diadakan oleh Army War College tahun 1998 dengan tajuk Challenging the United State Symmetrically and Asymmetrically : Can America be Defeated ?. Dari hasil konferensi tersebut diperoleh jawaban yang jelas yaitu bahwa Amerika tidak akan dapat ditaklukkan melalui serangan militer yang simetris (seimbang), tetapi Amerika dapat ditaklukkan dengan serangan yang asimetris (tidak seimbang).

Teknologi berpotensi menjadi ancaman menonjol yang sifatnya asimetris (asymmetric threat). Ancaman asimetris ini ternyata menjadi kenyataan dengan terjadinya serangan yang dikenal sebagai 911 terhadap WTC (World Trade Center) oleh kelompok tertentu (low tech seer) dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi transportasi. Sasaran serangan teroris terhadap WTC dan Pentagon adalah untuk menghancurkan simbol kedigdayaan teknologi Amerika. Dari kejadian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa teknologi canggih disamping merupakan sarana mengungguli lawan dalam rangka memenangkan perang juga sekaligus merupakan sumber ancaman yang potensial.

Masih berkaitan dengan teknologi, ancaman yang menonjol pada saat ini dan jangka waktu ke depan justru berasal bukan dari negara luar tetapi berasal dari kerawanan yang timbul akibat kemajuan teknologi (non state threat). Sebagai contoh, pembelian komputer dan peralatan berteknologi tinggi lainnya; pembangunan dam / pusat listrik; industri; jaringan telekomunikasi; dan sebagainya.

Pemanfaatan dan pembangunan teknologi tinggi seperti ini akan sangat potensial menjadi ancaman bagi negara bila tidak disertai tindakan pengamanan yang memadahi. Ingat kejadian 911 dilakukan dengan menggunakan dua “peluru kendali raksasa berawak” dengan kode boeing 767 yang merupakan bagian dari industri transportasi Amerika.

Teknologi Informasi dan Manajemen

Alvin Toffler membagi sejarah peradaban manusia dalam tiga gelombang yaitu era pertanian, era industri dan era informasi. Dalam ketiga era tersebut, teknologi menjadi faktor pendorong terjadinya perubahan (enabler). Dalam era pertanian karena teknologi belum begitu berkembang maka faktor yang menonjol adalah Muscle (otot) karena pada saat itu produktivitas ditentukan oleh otot. Dalam era industri, faktor yang menonjol adalah Machine (mesin), dan pada era informasi faktor yang menonjol adalah Mind (pikiran, pengetahuan). Alvin juga melukiskan milenium ketiga ini sebagai terra incognita, daerah yang tak dikenal. Dalam dunia semacam itu, maka perspektif Newtonian mengenai perubahan yang linear dan dapat diramalkan menjadi usang dan digantikan oleh teori kekacauan (chaos theory). Perubahan yang terjadi menjadi tidak linear, discontinue dan tak dapat diramal. Kondisi semacam inilah yang menjadi tantangan bagi manajemen modern. Akibatnya, kondisi tersebut menyulitkan kita dalam merencanakan masa depan. Karena itu, konsep perencanaan strategis (PS) yang pernah amat populer hingga era 1980-an kini mulai ditinggalkan orang. Pemikir manajemen termuka, Henry Mintzberg, menulis berita kematian PS dalam artikel yang berjudul The Rise and Fali of Strategic Planning (1994). Bahkan di Harvard Business School – Amerika Serikat tumbuh anggapan bahwa PS menghambat manajemen yang baik.

Dalam praktek PS seperti penyusun DUK dan DIK sering hanya menjadi ritual tahunan untuk merebut sebanyak mungkin sumber daya dengan memperjuangkan program-program yang ditawarkan. Kegagalan PS membuat banyak organisasi kembali menuangkan strategi masa depannya dalam bentuk visi strategis, karena visi menentukan sasaran utama organisasi dan mengilhami setiap orang untuk mengejar satu tujuan bersama. Patricia Jones dan Larry Kahaner (1994) yang meneliti berbagai perusahaan terkemuka di AS, menemukan banyak perusahaan yang menulis kembali pernyataan visi dan misi mereka ketika melakukan restrukturisasi dan rekayasa ulang. Namun demikian, banyak organisasi yang menyatakan memiliki visi tetapi tak berdampak apapun bagi organisasi, karena hanya diperlakukan sebagai slogan tak bermakna. Padahal visi membutuhkan penghayatan dan menjadi dasar dari segala tindakan dalam pengambil keputusan. Menjalankan visi secara benar akan memberikan dampak yang sangat baik bagi organisasi. Hal ini disebabkan oleh :

Pertama, visi memberikan sense of direction yang amat diperlukan untuk menghadapi krisis dan berbagai perubahan. Tanpa visi yang jelas, sulit bisa keluar dari krisis. Sebagai contoh, Bangsa Indonesia tidak memperlakukan “Menciptakan masyarakat adil dan makmur” sebagai suatu visi, tapi sebagai slogan pembangunan. Karena itu, sampai saat ini banyak masalah yang tak jelas arah penanganannya.

Kedua, visi memberikan fokus. Fokus merupakan faktor kunci daya saing organisasi untuk tampil menjadi yang terbaik. Dalam bisnis, hanya perusahaan yang fokus lah yang menjadi pemenang. Sebagai contoh, group Modern mengalami banyak kemunduran karena ketidak fokusannya dalam menjalankan core businessnya.

Ketiga, visi memberikan identitas kepada seluruh anggota organisasi. Ini baru terjadi bila setiap individu menerjemahkan visi tersebut menjadi visi dan nilai pribadi mereka. Sebagai contoh, di perusahaan Fedex pernah terjadi seorang kurir surat berani memutuskan memesan helikopter untuk menjamin sampainya barang ke tujuan pada waktunya, karena ia yakin keputusannya itu mendukung manajemen.

Keempat, visi memberikan makna bagi orang yang terlibat di dalamnya. Orang menjadi lebih bersemangat dan menghayati pekerjaan yang tujuannya jelas. Sebagai contoh, tukang sapu. Tanpa visi, menyapu berarti sekedar memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Ini tentu amat membosankan, namun tukang sapu yang bervisi menyadari akan hakikat pekerjaannya sebagai pekerjaann yang bermakna.

Saat ini adalah momentum yang tepat bagi Dephan untuk merumuskan kembali visi organisasi, karena dalam visi juga terkandung kepemimpinan. Saat ini banyak organisasi yang terlalu banyak dikelola (overmanaged) tapi kurang dipimpin (underled). Ini terjadi karena pimpinan hanya pandai membuat berbagai kebijakan dan prosedur, tapi kurang cakap menciptakan visi ke depan yang menarik dan memberikan inspirasi kepada semua orang dalam organisasinya. Jadi terra incognita antara lain dapat dihadapi dengan perumusan visi yang jelas. Disamping diatasi dengan perumusan visi yang jelas, ketidak pastian di jaman ini dapat pula diatasi dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam rangka memperoleh informasi secara cepat. Untuk memperoleh informasi secara cepat diperlukan pengetahuan yang sudah tersusun secara rapi dalam organisasi. Knowledge (pengetahuan) merupakan satu hal yang sangat mutlak untuk mengantisipasi jaman yang mengandalkan kecepatan (velocity). Dalam kaitan dengan hal ini, ada cabang manajemen yang relatif baru yaitu Knowledge Management (KM).

Sebenarnya konsep pengelolaan pengetahuan merupakan konsep lama, bahkan sama tuanya dengan umur manusia di dunia ini. Hanya saja bedanya dengan KM memungkinkan kita untuk tidak perlu memulai segalanya dari nol lagi. (We don’t have to always reinventing the wheel).

Konsep KM ini menjadi populer karena kompetisi yang kian tajam dalam memperoleh keunggulan. Ketatnya kompetisi menyadarkan orang bahwa penguasaan pengetahuanlah yang menentukan keunggulan. Keunggulan pada saat ini dirumuskan dalam formula : faster, cheaper and better. Sebagai contoh, Microsoft pada awalnya hanya bermodalkan intelektual kini dapat menciptakan aset fisik dan finansialnya secara luar biasa bahkan menjadikan Bill Gates salah seorang terkaya di dunia. Inilah bukti dari hasil kapitalisasi pengetahuan.

KM terdiri dari 3 komponen utama yaitu people, place dan content. KM membutuhkan orang yang kompeten, tempat untuk melakukan diskusi, dan isi dari diskusi itu sendiri. Dari ketiga komponen tersebut peran teknologi informasi adalah mampu menghilangkan kendala mengenai tempat melakukan diskusi. TI memungkinkan terjadinya diskusi tanpa kehadiran kita secara fisik. Dengan demikian sinergi dapat terus diadakan walaupun kita tidak bertatap muka. Dalam pelaksanaan KM menghadapi masalah utama yaitu masalah perilaku. Pertama, berkaitan dengan ketidakmauan orang untuk berbagi. Oleh karenanya perlu ditumbuhkan mentalitas berkelimpahruahan (abundance mentality) , yang intinya adalah suatu keyakinan bahwa hasil yang maksimal hanya dapat diciptakan dengan saling berbagi. Kedua berkaitan dengan ketidak disiplinan untuk selalu menuliskan apa yang ktia dapatkan. Ini merupakan suatu kendala karena budaya kita lebih cenderung pada budaya lisan. Kita belum bisa mendisiplinkan diri untuk selalu menuliskan pengetahuan dan pengalaman yang kita alami dalam suatu sistem sebagai suatu aset organisasi.

Aset organisasi dalam manajemen dirumuskan dengan 5M (man, money, method, machine, dan market). Manakah yang terpenting diantara tiga aset yang dimiliki perusahaan : fisik, keuangan, atau manusia? Banyak orang yang menjawab: manusia. Alasannya, karena manusialah yang mengelola kedua aset yang lain, walaupun faktanya, banyak yang lebih peduli aset fisik dan finansial daripada manusia. Tetapi, benarkah semua orang dalam organisasi merupakan aset organisasi? Thomas A. Stewart dalam bukunya Intelectual Capital, secara tegas mengatakan “tidak”. Menurut Stewart, yang benar-benar aset hanyalah orang-orang tertentu, yang pekerjaannya berkaitan dengan penambahan pengetahuan dalam organisasi. Stewart membagi karyawan dalam empat kelompok, yaitu :

Pertama, pekerja yang tidak terampil dan setengah terampil. Perusahaan memerlukan mereka, tetapi kesuksesan perusahaan tak tergantung mereka.

Kedua, orang yang melakukan berbagai macam aktivitas, tetapi tak menjadi faktor utama, seperti pekerja pabrik yang terampil, sekretaris yang berpengalaman, bagian keuangan dan staf pendukung lainnya. Mereka melakukan pekerjaan penting dan mungkin sulit digantikan, tapi pekerjaan semacam itu tidak dipedulikan pelanggan. Sebagai contoh, perusahaan periklanan yang menjadi faktor utamanya bukanlah para pekerja seperti tersebut tetapi adalah tim kreatifnya.

Ketiga, para pekerja yang melakukan hal yang dihargai tinggi pelanggan, tetapi sebagai individu mereka tidaklah berguna. Sebagai contoh, buku membutuhkan desain sampul yang bagus, sehingga memerlukan banyak perancang yang hebat. Namun untuk pekerjaan semacam ini, perusahaan bisa melakukan outsourcing.

Keempat, sebagai kelompok yang disebut Stewart sebagai the Stars, yaitu orang-orang dengan peran yang tidak tergantikan sebagai individu. Mereka bisa saja peneliti, manajer proyek, dan kelompol yang sejenis.

Mereka yang termasuk kelompok keempatlah yang benar-benar merupakan aset bagi organisasi. Tanpa maksud diskriminasi organisasi perlu memberikan perhatian penuh pada kelompok ini, karena ditangan merekalah masa depan organisasi. Persoalannya, bagimana memanfaatkan pengetahuan yang mereka miliki, sehingga dapat terakumulasi dan akhirnya menjadi aset organisasi.

Implikasi terhadap Pusdiklatjemen Dephan

Dari uraian diatas, maka untuk tetap menyandang sebutan sebagai center of excellent dalam bidang manajemen maka Pusdiklatjemen seyogyanya melakukan berbagai pembenahan yang meliputi :

a. Membangun sistem informasi yang baik dan menyusun bahan ajaran yang memungkinkan self paced study (ini tidak harus menggunakan komputer)

b. Memanfaatkan teknologi informasi yang meliputi pengembangan sistem informasi yang berbasiskan komputer (computer based informatian system/CBIS) untuk mendukung kegiatan operasional pendidikan, pembangunan peranti lunak pengajaran lewat komputer (computer based tutorial/CBT) dan sistem pakar (expert system/ES) dan digital library.

c. Menjadi pelopor dalam memperkenalkan Knowledge Management di lingkungan TNI, sehingga organisasi tidak terlalu tergantung pada personel tertentu tetapi tergantung pada sistem yang baku.

d. Memanfaatkan peranti lunak yang beredar di pasaran untuk lebih mengoptimalkan pelajaran seperti Network Planning (NWP) yang dapat dibantu dengan memanfaatkan perangkat lunak Manajemen Proyek seperti Microsoft Project, serta memanfaatkan peranti lunak yang umum untuk menjamin kelancaran tugas yang sifatnya dapat diotomatisasikan. Sebagai contoh, pembuatan template dalam tulisan atau produk baku seperti surat menyurat dan produk tulisan dinas yang lainnya.

e. Mengadakan evaluasi terhadap kurikulum terutama dalam SBS manajemen yaitu memberikan pelajaran yang berkaitan dengan reengineering dan yang berkaitan dengan prinsip akuntabilitas, seperti pelajaran AKIP, karena pelajaran ini sangat penting bagi kemajuan organisasi dan relevan dengan tantangan manajemen modern. Sedangkan khusus dalam penyusunan dokumen strategis yang berkaitan dengan manajemen pertahanan perlu diberi waktu yang lebih panjang agar penguasaan terhadap praktek perencanaan strategis secara lebih baik.

Dengan implementasi teknologi informasi seperti yang disebutkan secara singkat diatas, diharapkan Pusdiklatjemen akan mampu mempertahankan diri sebagai center of excellent di bidang manajemen di lingkungan Dephan dan TNI.

Demikianlah makalah “IMPLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP STRATEGI DAN MANAJEMEN PERTAHANAN” yang disusun sebagai Orasi Ilmiah pada acara penutupan Kursus Menajemen Perencanaan dan Penganggaran Pertahanan XXII TA 2003.

Pengertian :
a. Computer Based Information System /CBIS. Suatu sistem informasi dalam suatu organisasi untuk keperluan pengambilan keputusan dengan didukung oleh komputer sebagai alat utama.

b. Computer Based Tutorial /CBT. Salah satu metode pengajaran yang menggunakan komputer sebagai sarana. Berisi program-program pendidikan atau bahan ajaran yang pada umumnya dapat dikerjakan secara interaktif antara siswa dengan komputer.

c. Manajemen adalah ilmu dan seni dalam rangka mengatur sumber daya dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.

d. Self Paces Study. Salah satu metode pengajaran yang memungkinkan siswa belajar sesuai dengan minat dan kemauannya, tanpa harus tergantung pada guru, dengan menggunakan buku ataupun media yang lainnya.

e. Sistem Pakar (Expert System / ES). Salah satu sistem pemanfaatan komputer untuk menggantikan peranan tenaga ahli dalam suatu bidang. Sistem ini dapat pula digunakan untuk membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan bidang yang memerlukan keahlian khusus.

f. Strategi adalah suatu keputusan yang berkaitan dengan bagaimana suatu masalah itu dipecahkan. Strategi merupakan salah satu tingkat dari hirarki keputusan yaitu :

* Kebijakan (policy), yaitu keputusan yang berhubungan dengan apakah suatu masalah akan dipecahkan atau tidak.

* Strategi (strategy), yaitu keputusan yang berkaitan dengan bagaimana suatu masalah itu dipecahkan.

* Taktik (tactics), yaitu keputusan mengenai bagaimana strategi itu dapat diimplementasikan.

* Operasi (operation), yaitu keputusan mengenai bagimana taktik itu diimplementasikan.

g. Teknologi Informasi (TI) dapat didefinisikan sebagai teknologi yang mempunyai kemampuan sedemikian rupa untuk menangkap (capture), menyimpan (store), mengolah (process), mengambil kembali (retrieve), menampilkan (represent) dan menyebarkan (transmit) informasi. Perkembangan TI merupakan kombinasi antara kemajuan pesat bidang ilmu komputer dan komunikasi.

Referensi

1. Alvin Toffler, Third Wave.

2. Alvin Toffler, War and Anti War.

3. Bill Gates, At the Speed of Thought.

4. Budiman SP, The Impact of Information Technology on Military Strategy.

5. Artikel dari Internet, Memulai Knowledge Management.

Perang modern tidak lagi dilakukan secara berhadap-hadapan antara dua pasukan di medan terbuka. Begitu dimulai, perang ini akan lebih banyak dilakukan secara impersonal dengan teknologi, dipersiapkan jauh-jauh hari, dikendalikan dari jarak jauh, dan dilakukan malam hari. Pembantaian dibuat seperti play station, dan sang pembunuh tidak perlu mencium langsung bau anyir darah. Pada pembantaian di Iraq ini, perang sangat teroptimasi dengan teknologi informasi (IT) yang luar biasa.

IT pada pra-operasi militer

Jauh sebelumnya, intelijen AS akan memburu data dari semua penjuru. Satelit mata-mata AS membuat citra yang paling rinci yang pernah ada. Kalau satelit sipil seperti Ikonos atau Quickbird hanya mampu membuat citra dengan kehalusan pixel satu atau setengah meter, maka kita harus yakin bahwa satelit mata-mata akan mampu membaca tulisan koran.

Sementara itu shuttle radar topographic mission telah memetakan topografi seluruh dunia dengan pixel lima meter. Ini data yang di-release untuk sipil. Berapa akurasi militer yang dirahasiakan, tidak kita ketahui.

Dengan citra dan topografi ini, AS bisa membuat peta mutakhir daerah manapun tanpa perlu ijin atau sepengetahuan pemerintah manapun. Memang, dari peta ini beberapa ciri bangunan atau nama-nama geografis belum bisa diketahui. Untuk itulah AS akan mengirim spion untuk mengumpulkan informasi objek terutama yang dianggap vital dan tak “terbaca” dari angkasa. Juga tempat-tempat yang diduga berranjau. Mereka akan “berwisata” sambil merekam objek-objek “menarik” dengan piranti sistem posisi global (GPS). Piranti ini begitu mungil, bisa ditaruh dalam jam tangan, atau korek api. Begitu melihat objek menarik, wisatawan gadungan ini akan mengaktifkan GPS, sehingga objek itu terekam beserta posisinya. Kalau spion ini salah, petanya juga salah. Akibatnya fatal. Di Beograd jet AS pernah membom kedubes Cina, yang dikiranya markas Slobodan Milosevic. Di Iraq juga ada apartemen yang disangka mes militer. Malah Saddam sendiri tak diketahui ada di mana.

AS memiliki peta yang lebih rinci dari otoritas nasional manapun di dunia. Dengan data spasial tiga dimensi ini, pilot-pilot AS bisa melakukan simulasi terbang yang sangat realistis atas kota-kota di dunia. Mereka juga bisa optimalkan rute gerak pasukan, baik di darat maupun udara. Model elevasi digital (DEM) yang ada pada sistem ini juga yang menuntun rudal jelajah Tomahawk atau pesawat Stealth ke sasaran dengan efisien, tanpa takut menabrak gunung atau apapun.

Tapi itu semua belum cukup. AS juga ingin informasi tentang orang-orang yang perlu diawasi. Untuk itu intelijen AS menyadap informasi yang lalu lalang via jaringan telekomunikasi (dengan satelit AS), juga data perbankan dan data kartu kredit. Dengan analisis database, maka kebiasaan orang-orang yang disorot dinas rahasia AS bisa diikuti. Ostrovsky (1990) dalam By Way of Deception melukiskan, bahwa dengan analisis database kartu kredit saja, CIA atau Mossad bisa mempelajari penerbangan atau hotel apa yang sering dipakai seseorang, berapa pengeluarannya, apa yang suka dibelinya, siapa yang sering diteleponnya, siapa yang mengirim dana padanya, dan kapan dia ke mana. Tak heran bahwa dinas-dinas rahasia itu punya background & insider information yang sangat rinci tentang tokoh-tokoh di negeri Islam. Mungkin di antara mereka ada yang berbakat jadi pengkhianat.

CIA-World-Fact-Book yang sering jadi referensi, adalah versi sipil dari bank data yang sangat lengkap. Di situ tersimpan data logistik di tiap daerah, yang di masa perang akan penting. Misalnya, bahwa di suatu desa ada sekian penduduk, sekian yang bisa perang, sekian janda (mungkin disiapkan untuk “hiburan” tentara AS), sekian ton pangan, dan sebagainya. Informasi itu penting untuk manuver pasukan, evakuasi, ataupun menduga lokasi musuh dalam perang gerilya. Di Indonesia, data seperti ini dikelola Direktorat Topografi TNI-AD dengan memanfaatkan organnya sampai ke desa, yaitu Babinsa. Bedanya, AS mengumpulkan Laporan Geografi Militer dari seluruh dunia.

Dengan data yang begitu lengkap, AS bisa membangun sistem informasi geografis (GIS) yang luar biasa. Mereka bisa simulasi berbagai skenario perang, berapa korban yang akan jatuh dan kerugian yang ditimbulkan jika suatu senjata canggih seperti gelombang mikro ataupun nuklir digunakan. Mereka juga bisa berhitung tentang “keuntungan” perang dalam jangka panjang.

Andaikata diijinkan dipakai untuk sipil, sistem semacam ini sangat optimal untuk mempelajari pola bencana alam seperti banjir, gempa tsunami atau kebakaran hutan. Kapasitas komputasi sistem ini bisa membantu mengetahui dengan akurat, apa action yang tepat untuk misalnya mencegah banjir Jakarta: apa benar dengan reboisasi Puncak?; dengan kanal banjir senilai 15 Trilyun?; dengan pompanisasi?; dengan pembersihan tepi Ciliwung dari pemukiman liar?; atau apa? Sayang sistem tadi justru dipakai untuk optimasi pembantaian kaum muslimin.

Perangkat ini dilengkapi sistem pakar (expert-system) yang akan membantu pengambilan keputusan. Bisa jadi keputusan kapan perang dimulai, atau suatu rudal diluncurkan, tidak di kepala George Walker Bush, apalagi PBB, melainkan pada sistem pendukung keputusan (decission support system), yang tentu hanya mesin pintar berkapasitas besar, tanpa nurani.

IT pada saat perang

Ketika perang, pasukan di garis depan akan dilengkapi alat GPS-telemetri, inframerah dan telematika. GPS akan memandu ke sasaran. Komando di belakang bisa memantau posisi dan kondisi pasukannya dari laptopnya. Kalau ada prajurit yang terluka atau tertangkap, posisinya langsung bisa diketahui.

Sementara itu alat inframerah berguna untuk melihat di kegelapan. Alat ini bisa mendeteksi manusia, yang tubuhnya memancarkan panas pada spektrum tertentu, meski bersembunyi di balik semak-semak atau dinding dengan ketebalan tertentu.

Mereka juga dilengkapi piranti telematika, yang akan memasok data-data terakhir ke front, baik dari satelit, atau analisis komputer atas data intelijen mutakhir. Agar jaringannya tidak disusupi hacker musuh, maka dilakukan enkripsi cryptografi yang sangat rumit.

Sementara itu senjata yang dipakai pun memiliki kandungan IT yang makin tinggi. Kini ada robot-robot mungil (dragon-runner) yang memiliki kecerdasan buatan (artificial intelligence). Robot ini bisa mengambil keputusan mandiri dan terus mengupdate diri dengan “pengalamannya”. Ia dilengkapi kamera dan sejumlah sensor suara, panas atau bau. Dengan software pengenal pola, maka robot ini bisa mengenali musuh dan secara mandiri menyerangnya.

Sementara itu ada jenis robot lain yang dilengkapi bom dan piranti GPS. Bom itu diprogram untuk hanya meledak di lokasi yang koordinatnya ada pada daftar. Bom ini bisa juga dicurahkan dari “mother bomb” sebagai “bom satelit” atau diluncurkan sebagai ”position guided missile” (PGM).

Jenis senjata lain adalah senjata radio yang bisa merebut kontrol atas piranti elektronik. Pesawat-pun bisa dibajak secara elektronik (electronic hijacked) - hal mana diduga kuat terjadi pada pesawat yang menabrak WTC 11 September 2001. Masih dengan radio adalah gangguan frekuensi (jamming) sehingga seluruh piranti telekomunikasi musuh terganggu.

Namun teknik jamming ini bisa pula digunakan musuh untuk melawan. Kalau ada ahli elektronik muslim yang mampu membuat pemancar yang kuat, bisa jadi pasukan AS yang dipandu GPS akan kehilangan arah, karena sistem GPS-nya ngaco. Karena itu pasukan AS juga dilengkapi sistem navigasi inersia (INS), yang tidak tergantung pada gelombang radio.

IT kaum muslimin

Apakah Iraq mampu mengatasi keunggulan IT AS itu? Boro-boro. Jangankan membungkam sistem GPS AS, pasokan listrik saja mungkin sudah byar pet. Dalam perang modern, instalasi listrik dan telekomunikasi adalah objek yang sering dihantam dulu. Iraq bahkan sebelumnya sudah melatih rakyatnya untuk biasa “bekerja seperti di zaman Khalifah Harun Al Rasyid”, tanpa listrik, tanpa komputer, tanpa radio.

Maka di atas kertas, Iraq atau negara manapun yang mencoba “berani” melawan AS sudah akan keok. Meski demikian, dalam perang manapun, yang terpenting bukanlah senjata, tapi “man behind gun” atau bahkan “God behind gun”. Di Vietnam dan Somalia pun AS tak begitu sukses. Jadi kalau Allah menghendaki bisa saja, seluruh sistem IT AS itu ternyata ditanami virus oleh programmernya, yang kesal dengan arogansi Bush. Atau Chief Information Officer (CIO) Pentagon sendiri – sebagai orang yang de facto paling berkuasa atas sistem IT ini – terketuk nuraninya, lalu menembak ke “gawang” sendiri. Atau di lapangan, serdadu AS yang stress pada mabuk, lalu ribut sendiri. Yang jelas, makin canggih teknologi, ia makin rentan, dan “kecerdasan bertahan hidup” (survival quotient) dari pasukan akan turun. Sementara rakyat Iraq yang bertahan dengan ruh jihad siap menghabisi pasukan AS di perang kota. Banyak yang bisa terjadi. Allah juga pernah mengirim burung Ababil untuk menghancurkan pasukan Abrahah.

Kenyataan ini seharusnya membuka mata kita, bahwa untuk melawan negara sekuat Amerika, kaum muslimin tidak bisa mengandalkan Iraq, apalagi yang dipimpin seorang tiran, dan setelah diembargo dan dilucuti. Kaum muslimin memerlukan sebuah negara yang lebih kuat dari Amerika, negara yang mempersatukan seluruh potensi kaum muslimin di dunia. Negara seperti itu adalah Daulah Khilafah, yang pernah meruntuhkan adidaya Persia dan Romawi, namun sayang telah tiada sejak pasca Perang Dunia I. Untuk itulah, respon kita terhadap serangan AS atas Iraq tidak cukup hanya jangka pendek seperti aksi protes, boikot, bantuan kemanusian atau pun qunut nazilah.

Kita harus punya agenda jangka panjang, membangun kembali persatuan ummat Islam sedunia, dalam wadah Daulah Khilafah, karena hanya negara ini yang pernah menjadi adidaya. Dan negara ini pula yang nanti akan mengembangkan teknologi yang lebih kuat berdasarkan syariat, sehingga tak hanya menandingi arogansi AS, tapi bahkan menundukkannya, dan lalu menjadikan teknologi itu sarana mewujudkan keadilan, kemakmuran dan rahmat di seluruh alam.

 

Antisipasi Menghadapi Perang Modern
“Asymmetrical Warfare”
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah dijadikan grand strategy
oleh sejumlah negara untuk membangun kekuatan tempurnya. Pemanfaatan unsur
informasi menyebabkan terbukanya peluang terjadinya perang informasi atau
information warfare di masa yang akan datang. Untuk mengantisipasi menghadapi
perang informasi, Mabes TNI melaksanakan seminar sehari tentang C4ISR (Command,
Control, Communication, Computers, Intelligence, Survellance &Reconaisence) di
Gedung Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap.
Menurut Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto, pertempuran informasi dengan
penguasaan informasi sebagai bagian dari asimmetrical warfare dianggap banyak
ahli strategi perang sebagai kiat persiapan perang berbiaya rendah dengan dampak
yang sangat luas. Kiat pengumpulan data dan informasi menjadi penting, curi
mencuri informasi kemudian merupakan hal yang pasti. Kemampuan untuk dapat
menjaga data dan informasi menjadi sangat mutlak, sama mutlaknya dengan
kebutuhan untuk mengacaukan system informasi lawan dengan cara menyusup data dan
informasi salah.
Menghadapi kecenderungan ini, TNI harus mulai berpikir dan mengambil tindakan
antisipasi yang pasti, bukan hanya terhadap potensi ancaman perang secara
tradisional tetapi juga mengantisipasi kemungkinan penggelaran perang modern
yang mengacu pada gaya asymmetrical warfare khususnya melalui kiat perang
informasi yang datangnya kerap tidak bisa dilihat atau dirasakan kecuali setelah
menimbulkan kerugian yang pasti. Ancaman permanen atas keutuhan wilayah
kedaulatan NKRI seperti pada penggeseran patok batas wilayah kedaulatan dan
persengketaan tapal batas hingga penguasaan/pendudukan wilayah secara illegal,
penyusupan manusia dan ideologi asing, penyelundupan uang, bahan peledak dan
senjata, pengacau keamanan melalui kiat lintas batas negara termasuk aktifitas
terorisme serta kebocoran rahasia penting negara adalah bagian dari hal-hal yang
secara langsung harus ditangani lebih serius. Kegiatan perang informasi yang
digelar lawan, dapat menyebabkan misalnya, pergeseran patok-patok batas wilayah
NKRI tidak dilakukan oleh negara asing, tetapi oleh warga negara sendiri yang
sudah terkecohkan oleh informasi salah satu melalui kiat operasi psikologi.
Contoh lain penyelundupan uang untuk melancarkan suatu operasi social
engineering melalui media elektronik adalah hal kini sangat dimungkinkan.
Saat ini menurut Panglima TNI makin terasa bahwa dalam konteks
pelaksanaan tugas, peran dan tanggung jawab insan dan institusi TNI dalam
kegiatan pertahanan hingga pelaksanaan operasi-operasi militer, sangat
membutuhkan suatu peningkatan kapasitas dan kapabilitas di bidang sarana dan
prasarana termasuk SDM, khususnya dibidang yang berkaitan dengan kiat-kiat
intelijen.
Untuk itu, SDM kita harus bisa mengantisipasi, mengikuti dan
mengimbangi secara taktis perkembangan dan pertumbuhan teknologi intelijen yang
semakin pesat dan modern. Bukan satu hal yang aneh bila SDM TNI perlu dilatih
untuk dapat mempelajari kemampuan fasilitas tempur lawan dalam suatu misi
militer dan menggunakannya untuk menghancurkan lawan. Inilah sebabnya,
perhatian terhadap fasilitas alut sista dan kesiapan SDM khususnya yang
berkenaan dengan peralatan dan optimalisasi pemanfaatan fasilitas K3I yang saat
ini masih dijadikan salah satu andalan sistem pertahapan TNI, perlu
diprioritaskan dan disiasati dengan tepat dan benar sehingga bisa menunjukkan
potensi manfaat yang pasti, dimana selanjutnya harus mampu memunculkan
deterrence factor yang baru.
Fasilitas K3I yang sudah ada saat ini secara bertahap harus ditingkatkan menjadi
C41SR (Command, Control, Communication, Computers, Intelligence, Surveillance &
Resonance) dan dikemudian hari bisa ditingkatkan lagi menjadi architecture
framework system yang lengkap dan berdaya. Kebutuhan peningkatan ini muncul
bukan hanya dari antisipasi terhadap faktor ancaman di depan, akan tetapi untuk
mengantisipasi perubahan teknologi yang tidak bisa dihindari, dimana sekali
waktu sistem yang masih dipergunakan TNI saat ini tidak lagi dapat diperbaiki
atau diperbaharui karena sudah tidak lagi dibuat oleh pabriknya dan sudah
terlalu kuno yang tentunya akan menjadi kendala tersendiri.
Fasilitas-fasilitas TNI saat ini seperti ; Surveillance and Reconnaissance
System, Special Target Movement Monitoring System, Terrestrial Border Monitoring
Systems, dan UAV, masih bisa ditingkatkan dengan fasilitas tambahan seperti
Unmanned Operated Surveillance and Reconnaissance System, maritime Un-manned
Vehicle hingga Robotic Operation System yang disebut-sebut sebagai The Future
Combat System. Namun terlepas dari peran masing-masing instumen dimaksud, saat
ini dibutuhkan kemampuan pengintegrasian sistem-sistem yang telah dimiliki TNI
secara tepat dan benar.
Pengembangan dan peningkatan pemberdayaan system K3I dalam lingkungan Mabes TNI
yang telah ada saat ini menjadi sistem C4ISR berbasis jaringan terpusat (network
centric), perlu untuk direncanakan dengan baik. Pemanfaatannya dikemudian hari
harus bisa memungkinkan dilakukannya kegiatan yang tidak terbatas hanya pada
komando, control, komunikasi dan intelijen saja, akan tetapi lebih jauh
memastikan terjadinya kemampuan koordinasi serta peningkatan kinerja intelijen
yang boleh jadi ditambah pemanfaatan system Surveillance and Reconnaisancenya
secara real time.
Sementara menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, bidang
TIK baik pengembangan maupun pemanfaatannya mempunyai peran penting dalam
pembangunan suatu negara. Sektor TIK, selain menawarkan berbagai peluang untuk
menciptakan nilai tambah di sektornya, juga merupakan “enabler” di semua sektor
lainnya, yang langsung berpengaruh pada tingkat daya saing suatu negara,
termasuk didalamnya daya saing pada sektor pertahanan dan keamanan.
Menyadari luasnya dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan bidang informasi dan
komunikasi, sudah sewajarnya setiap negara termasuk Indonesia perlu menyiapkan
masyarakatnya untuk mampu menghadapi pergeseran ini serta memanfaatkan berbagai
peluang dan siap menghadapi berbagai ancaman baru yang muncul dari perkembangan
ini.
Kecepatan bertindak serta keputusan berdasarkan data akurat kian menjadi unsur
penting dan signifikan dalam membangun suatu sistem Hankam di saat ini dan
dimasa mendatang. Dipihak lain, jumlah data dan informasi yang perlu dilibatkan
dalam suatu keputusan menjadi kian besar dan kompleks. Menghadapi dua kenyataan
ini, berbagai negara saat ini berlomba-lomba ingin membangun suatu sistem C4ISR
(Command, Control, Communication, Computers, Intelligence, Surveillance &
Reconnaisance) yang terintegrasi dengan memanfaatkan TIK.
Dengan TIK yang berkembang saat ini, suatu jaringan sistem intelligence,
surveillance & reconnaissance, dapat dengan mudah dapat mengirimkan berbagai
informasi secara digital dan real time ke berbagai unit lainnya untuk
mendapatkan keputusan lebih lanjut dengan cepat dan akurat, jelas Kusmayanto.
Konvergensi yang terjadi di sektor TIK dapat dimanfaatkan untuk membangun suatu
sistem C4ISR secara nasional yang terintegrasi secara luas dari mulai sistem
sensor paling depan, sistem pengolahan, sistem pengendalian sampai dengan sistem
persenjataannya, untuk menjawab berbagai kebutuhan yang muncul baik saat ini
maupun dimasa mendatang.
Dalam bidang pertahanan keamanan menurut Menristek, dapat dikategorikan sebagai
suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara-cara berfikir yang tidak
lazim dan diluar aturan-aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang
yang sangat luas dan mencakup seluruh aspek. Pilihan ini sebagai dasar untuk
mengembangkan strategi keamanan nasional dan tanpa diimbangi dengan pengembangan
kekuatan non phisik akan menghadapi resiko kehancuran terhadap ancaman asimetri
[asymmetric threat].
Dengan meningkatnya berbagai peluang sekaligus ancaman di era globalisasi ini,
sudah sewajarnya Indonesia menikatnya kemampuan untuk menjaga pertahanan dan
keamanannya dengan membangun system yang handal dan terintegrasi memanfaatkan
berbagai teknologi yang tersedia untuk menjawab berbagai kebutuhan yang
dihadapi, antara lain untuk mengatasi :
§ Penangkapan ikan dan penebangan kayu illegal.
§ Early warning system menghadapi bencana alam dan ancaman
§ Maritime surveillance.
§ Ancaman terhadap daerah perbatasan dan lain-lain.
Tanpa usaha untuk membangun sistem terintegrasi demikian, kemampuan untuk
mengatasi ancaman terhadap berbagai kegiatan pembangunan akan kian melemah, yang
tentunya akan berakibat pada lemahnya daya saing Indonesia dalam menghadapi
kompetisi di era global saat ini.
Perlu disadari bahwa pembelajaran teknologi tidak berlangsung di ruang hampa dan
otomatis tapi membutuhkan kesadaran dan kemauan kuat serta terkait erat dengan
sistem insentif yang memacu semua pelaku untuk melakukan pembelajaran teknologi.
Kesemuannya ini menyangkut aspek perluasan industri, pengembangan kemampuan SDM,
pengokohan system inovasi serta penciptaan lingkungan bisnis yang kompetitif.
Kepakaran, keahlian serta kreatifitas yang dikembangkan oleh LPND, perguruan
tinggi serta berbagai institusi litbang haruslah dapat dimanfaatkan oleh sektor
Hankam sebagai suatu kekuatan dalam mengembangkan berbagai sistem yang
dibutuhkan. Dan sebaliknya pengalaman dan kemampuan di lingkungan Hankam
haruslah dapat dimanfaatkan oleh seluruh institusi litbang untuk meningkatkan
kemampuannya.

Sedang menurut Asops Kasum TNI Mayjen TNI Bambang Darmono, untuk membangun
kekuatan TNI dimasa mendatang harus mempertimbangkan perkembangan teknologi
informasi. Untuk kepentingan militer seperti Kodal, intelijen, pengintaian dan
pengamatan, bentuk platform persenjataan telah memanfaatkan teknologi informasi
baik teknologi telekomunikasi maupun teknologi computer. Hal ini perlu
diantisipasi dalam rangka menghadapi perang informasi pada masa ini dan masa
mendatang. Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagian integral dari
komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi. Dengan demikian setiap
langkah yang diambil harus ditujukan untuk mencapai keunggulan informasi.
Kemajuan teknologi informasi menyebabkan terjadinya pergeseran konsep
memenangkan perang. Pada awalnya, cukup dengan konsep Komando dan Kendali
(Kodal/K2), yang pada prinsipnya merupakan hubungan intern antara komandan
dengan anak buahnya dalam tugas operasi. Dan dalam perkembangan selanjutnya,
komunikasi dengan kesatuan lain dalam operasi menjadi suatu keharusan. Maka
lahirlah konsep baru yaitu Komando, Kendali, Komunikasi dan Informasi (K3I). di
era 90-an, dengan kemajuan teknologi computer lahirlah konsep baru berupa
Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, Pengamatan dan Pengintaian
(K4IPP). Meskipun di Indonesia, K4IPP masih menjadi angan-angan, tetapi paling
tidak sudah menyiratkan adanya suatu pandangan bahwa sistem informasi yang
berbasiskan computer menjadi fungsi yang sangat penting dalam peperangan, jelas
Bambang Darmono.
Pembangunan kekuatan TNI baik matra darat, laut dan udara, harus direncanakan
secara terarah dan berlanjut baik dalam renstra jangka menengah maupun jangka
panjang yang diharapkan mampu untuk menghadapi segala ancaman yang timbul baik
ancaman militer maupun nonmiliter yang datang dari dalam maupun dari luar
negeri. Oleh karena itu pembangunan kekuatan TNI harus dipertimbangan
perkembangan lingkungan strategis dan perkiraan ancaman yang mungkin terjadi.
Kemajuan Teknologi Informasi (TI) membawa dampak yang sangat luas bagi kehidupan
masyarakat saat ini. Yaitu dapat merubah cara berorganisasi, merubah cara
perdagangan antar perusahaan, mengubah cara pemerintahan dan negara bahkan
mengubah cara untuk berperang.
Penggunaan TI dalam sistem informasi modern memaksa pihak militer untuk meninjau
kembali doktrinnya, sebab perkembangan teknologi informasi membawa perubahan
mendasar bagi kepentingan intelijen, sistem pengintaian dan pengamatan, sistem
komando dan kendali sehingga pola penataan strategis perangkat perang dalam
perang modern perlu disesuaikan dengan kemajuan teknologi informasi tersebut.
Pemanfaatan teknologi informasi diberbagai kehidupan, khususnya dibidang militer
perlu diantisipasi perkembangannya karena disatu sisi dapat membawa dampak untuk
kebaikan tapi disisi lain berdampak untuk pengrusakan. Konsep-konsep
pengrusakan pada sistem informasi inilah kemudian berkembang untuk dijadikan
dasar bagi kepentingan perang informasi. Munculnya perang informasi dengan
memanfaatkan perkembangan teknologi informasi, karena sifat penggunaan sistem
secara bersama (sharing), sehingga memungkinkan pihak-pihak yang tidak
berkompeten pada suatu sistem dapat melakukan akses ke pihak lain tanpa
mengalami kendala. Seperti diketahui teknologi informasi merupakan perpaduan
dari teknologi telekomunikasi dan computer. Dengan perkembangan kedua teknologi
tersebut memungkinkan orang dapat berinteraksi dari satu tempat ke tempat lain
tidak perlu melihat batasan wilayah ataupun negara. Permasalahan muncul ketika
pemanfaatan teknologi tersebut digunakan untuk kepentingan yang tidak pada
semestinya (diselewengkan) seperti pencurian data, perusahaan data bahkan
penghilangan data milik orang lain.
Dewasa ini hampir seluruh sistem yang digunakan untuk kepentingan militer
seperti komando dan kendali, intelijen, pengintaian dan pengamatan, bentuk
platform persenjataan telah telah memanfaatkan kedua teknologi tersebut.
Tentunya untuk menjaga faktor keamanan pada sistem tersebut perlu ada upaya
untuk melindunginya terhadap pihak-pihak yang berupaya untuk mengacaukan sistem
tersebut. Konsep perlindungan sistem perlu ditempuh mengingat sistem tersebut
selain membentuk suatu jaringan juga memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang
rawan terhadap gangguan penyadapan dan pengrusakan data pada saat terjadi proses
interaksi. Mengingat lompatan kemajuan teknologi informasi demikian pesatnya,
maka perkembangan kedua teknologi perlu disimak secara seksama sebagai bahan
antisipasi dalam menghadapi perang informasi pada abad ini.
Penguasaan perang informasi bagi suatu angkatan bersenjata mutlak diperlukan
mengingat perang dimasa mendatang akan didominasi oleh strategi, teknik dan
taktik pemanfaatan Perang Informasi. Seperti ada pepatah “Siapa yang mengusai
informasi, dialah yang akan mengusai dunia”, tambah Asops Kasum TNI.
Perang modern. Perang dimasa kini dan dimasa mendatang merupakan perang modern
yang cepat dan mematikan. Hal ini diperlukan kepekaan dan kecepatan dalam
komando dan pengendalian. Pada era perang modern dituntut suatu pertahanan yang
mendekati waktu nyata (real time) atas keadaan taktis dan mampu
mengkomunikasikan secara on line ke seluruh unsur kekuatan pertahanan nasional
yang ada. Perang modern juga menuntut suatu kesatuan komando yang jelas dan
tertata rapi, dimana Panglima Tertinggi pemegang otoritas pertahanan harus dapat
mengetahui situasi yang berlaku serta dapat mengambil keputusan secara tepat
dalam waktu singkat.
Hal yang terpenting dari sistem K4IPP yaitu memberikan informasi situasional
kepada pimpinan tentang lokasi dan status dari kekuatan musuh dan kekuatan kita
yang perlu mendapatkan perhatian. a. Kemampuan dari K4IPP. Kemampuan dari
sistem K4IPP terdiri atas : 1) Situational Awareness. Situasi dimana seluruh
informasi unsur-unsur kekuatan sendiri berada pada lokasi tertentu dan data
statusnya serta kedudukan musuh berada, 2) Information Superriority. Informasi
merupakan aset yang strategis bagi setiap organisasi. Inilah yang menyebabkan
kegagalan khususnya dalam bidang pertahanan, sehingga kemampuan untuk
menyediakan informasi potensial merupakan faktor yang sangat menentukan dari
kekuatan pertahanan suatu negara. Dalam doktrin militer, informasi merupakan
bagian integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi.
Dengan demikian maka setiap langkah yang diambil ditujukan untuk mencapai
keunggulan informasi. b. Penggunaan Sistem K4IPP. Sistem K4IPP dipergunakan
bagi pimpinan sebagai sistem komando dan pengendalian secara global, kontijensi
sistem perencanaan daerah militer, sistem komando gabungan maritim dan sistem
manuver.
Aplikasi K4IPP (C4ISR) dalam Medan Pertempuran. C4ISR adalah singkatan dari
Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and
Reconaissance. Komando dan kendali lebih menjurus pada pembuat keputusan
bersifat arahan yang dilaksanakan oleh komandan guna mengatur gerak pasukannya
dalam menyelesaikan misi. Peran itu didukung oleh teknologi informasi dimana
computer komunikasi merupakan bagian dari C4ISR. Sistem C4ISR menyediakan
kemampuan utama untuk mewujudkan situasi kesiapan komando yaitu informasi
mengenai kedudukan dan kekuatan pasukan musuh dan pasukan sendiri. Oleh
karenanya, C4ISR menjadi komponen yang praktis dan diperlukan untuk mencapai
keunggulan ketika keputusan dibuat.

Menurut Penasehat Panglima TNI Bidang K4ISR Dr.Yono Reksoprodjo, ST.DIC, perang
informasi atau information warfare adalah serangkaian kegiatan pemanfaatan dan
pengaturan dari suatu informasi yang dipergunakan untuk mendapatkan keunggulan
kompetitif atas lawan. Hal-hal yang berkaitan dalam bentuk data dan informasi
secara kolektif, upaya memastikan keabsahan suatu data atau informasi,
penyebaran informasi propaganda dan informasi fitnah atas lawan, dengan tujuan
untuk melemahkan kekuatan musuh hingga pencegahan atau penolakan keperluan
pertukaran informasi musuh adalah kiat-kiat yang dimasukkan ke dalam kegiatan
perang informasi. Bentuk-bentuk nyatanya adalah semacam kiat upaya pemanfaatan
komunikasi pertukaran informasi yang dapat berakibat terpengaruhnya suatu sikap,
terjadinya suatu penyangkalan atau perlindungan, suatu bentuk penipuan, atau pun
suatu bentuk eksploitasi hingga penyerangan.
Informasi Saat Perang atau Information In Warfare yang juga dikenal
dengan sebutan Battle Field Warfare adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan
dengan kepentingan mendapatkan dan menyampaikan data dan informasi disaat
terjadinya pertempuran.
Hal-hal yang berkenaan dengan kegiatan ini biasanya mencakup kiat-kiat operasi
Surveillance, Reconnaissance, Intelligence, dan hal-hal yang berkaitan langsung
dalam suatu pertempuran termasuk didalamnya kegiatan pemantauan dan peramalan
cuaca, strategi logistik, kondisi geografis, hingga kiat upaya pelancaran suatu
bentuk perang informasi.
Lepas dari segala kemiripan dari istilahnya masing-masing, benang
merah yang dapat ditarik dari semuanya adalah digunakannya “informasi” sebagai
amunisi dan senjata utama untuk mencapai tujuan memenangkan pertempuran atau
lebih jauh lagi suatu peperangan, dan kunci utama dari keberhasilannya terletak
dari kiat pengusaan dan pengaturan dari informasi tersebut. Disinilah kemudian
letak pentingnya suatu operasi informasi atau juga dikenal sebagai Operation
Information, yaitu rangkaian dari kiat-kiat taktis pemanfaatan dan atau
manipulasi data serta informasi melalui media atau jaringan dan infrastruktur
sistem informasi.
Dr. Yono Reksoprodjo SI.DIC mendefinisikan Information Warfare (IW)
atau Perang Informasi dalam tiga cakupan. Pertama, segala bentuk penyerangan
terhadap fungsi-fungsi informasi, tidak peduli bagaimana caranya. Melakukan
perusakan misalnya pada fasilitas piranti lunak switching telpon publik sudah
dapat dikatagorikan sebagai perang informasi. Kedua, setiap upaya dalam
menjaga fungsi-fungsi informasi, tidak perduli apapun caranya, terhadap potensi
penyerangan, misalnya untuk pencegahan virus computer, sudah bisa dikatagorikan
sebagai perang informasi. Ketiga, perang informasi adalah upaya dan bukan
hasil seperti juga pengertian akan perang laut, yang bukan berupa hasil tetapi
serangkaian langkah-langkah taktis. Karenanya, perang informasi adalah juga
upaya untuk melaksanakan siasat penyerangan dan penjagaan yang serupa dengan
perang laut dimana dilaksanakan juga kiat siasat penyerangan dan penjagaan yang
taktis.
Pengertian akan Information Inf Warfare (IIW) atau Informasi Saat Perang adalah
serangkaian kiat militer yang berkenaan kegiatan Intelligence, Surveillance and
Reconnaisance (ISR), Ketetapan Posisi dan Navigasi, Operasi Cuaca, Operasi
Hubungan Kemasyarakatan, serta berbagai kegiatan saat pertempuran seperti Combat
Camera Operation dan sebagainya. Inti dari IIW adalah hal-hal yang bersifat
taktis namun berpengaruh terhadap kesuksesan misi-misi strategis. Kini
pengertian tentang IIW telah diadopsi oleh kepentingan sipil khususnya dalam
kinerja bisnis sehari-hari. Hal ini juga telah merancukan pemakaian
fasilitas-fasilitas sekaligus lintas disipliner. Pada kenyataannya, berbagai
kinerja Perang Informasi yang berkenaan dengan IIW, sering dilakukan di bawah
seragam masyarakat sipil.
Pengertian akan Information Operation atau Operasi Informasi adalah
kegiatan yang ditujukan untuk menggelar perlawanan dengan memanfaatkan data dan
informasi ataupun sistem serta jaringan informasi. Nilai sukses dari suatu
operasi militer tergantung pada kiat mendapatkan dan menyusun informasi berharga
termasuk mencegah perlawanan dengan cara sebaliknya. Suatu Institusi Militer
bertanggung jawab untuk melaksanakan kiat pertahanan dan penyerangan melalui
serangkaian Operasi Informasi.
Tanggung jawab ini termasuk tindakan menjaga informasi atas apa yang boleh dan
tidak boleh keluar serta secara agresif berkemampuan untuk menyerang fasilitas
system informasi lawanan untuk tujuan pre-emptive atau untuk suatu perlawanan.
Bentuk-bentuk bagian dari Operasi Informasi antara lain kamuflase, operasi
psikologi, operasi khusus, operasi jaringan komputer, perang elektronika.
Berbagai sumber baik insan sipil maupun militer dapat menjadi sumber ancaman
karena mereka dapat melaksanakan perang informasi antara dengan melaksanakan
unauthorized users, seperti Hackers, melakukan penyerangan atas system informasi
walau disaat damai. Bermula dari penyerangan terhadap personal computers, namun
belakangan meningkat ke jaringan dan computer terpusat. Insiders, individual
yang memiliki hak akses masuk ke sistem, menimbulkan kesulitan yang sangat
menyulitkan khususnya dalam memilih mana yang musti diamankan. Insiders bisa
berupa karyawan tetap bisa bukan atau hanya seolah sebagai karyawan tetap.
Insiders bisa menyerang system setiap saat dan setiap sudut selama ia berada di
dalam instalasi atau jaringan. Hal ini mengingatkan pentingnya peningkatan
kualitas rancang bangun, produksi, transportasi dan jadwal perawatan setiap
sarana dan prasarana termasuk bagaimana dan siapa yang melakukan pembangunannya.
Terrorisme meningkatkan melalui fasilitas system informasi komersial yang tidak
khusus. Tindakan mereka mencakup kiat hacking melalui kinerja destruktif atau
infrastruktur strategis. Kegiatan para teroris telah dipantau memanfaatkan
computer bulletin boards untuk bertukar informasi intelijen dan data teknis di
atas batas wilayah internasional. Non-state groups (the “New Warrior Class”)
telah mengambil keuntungan dari berbagai kesempatan yang tersedia di era
Information Age. Mereka selalu mendapatkan jalan mendapatkan cara-cara
memanfaatkan mulai akses komersial hingga secured communication infrastructures,
dari suatu tempat yang aman bagi mereka yang bisa jadi tempat itu adalah wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain melakukan penyerangan terhadap lawan
diluar medan tempur, kelompok ini juga pandai memanfaatkan international news
media dalam mempengaruhi opini publik dunia serta membentukan suatu persepsi
mengenai suatu konflik atau justru memulai terbentuknya konflik baru. Foreign
intelligence services bergerak sangat aktif menjalankan Operasi Informasi
khususnya dimasa damai. Mengambil keuntungan dari anonymity yang diberikan
sebagai kemudahan pada fasilitas computer bulletin boards. Mereka biasanya
menyembunyikan kegiatannya dengan seolah hal-hal tersebut dilakukan oleh hacker
biasa. Banyak ulah mereka yang tidak langsung menyerang pertahanan militer,
tetapi dilakukan atas institusi komersial atau lembaga ilmu pengetahuan dengan
tujuan penguasaan kemampuan kinerja ekonomi suatu negara. Adversary activities
atau kegiatan perlawanan, adalah satu hal yang kerap diasosiasikan dengan model
perang tradisional yang lebih bersifat terbuka, tetapi disini kemampuan
melakukan manipulasi terhadap pusat-pusat berita dimasa damai mempertegas adanya
suatu situasi yang cenderung meningkat bahaya.
(Tim Patriot)

al Qaeda’s Top Cyber Terrorist

Younis Tsouli.jpg

The Internet has long been a critical domain of terrorist and extremist groups around the world. Perhaps the most notorious cyber terrorist was an individual know as “Irhabi 007.” He was later identified as Younes Tsouli is a 23-year-old son of a Moroccan diplomat.

For nearly two years, Younes Tsouli was sought by global intelligence sources. The online terrorist communities Tsouli created trained terrorists who congregated in those cyber communities. The training included hacking, programming, executing online attacks and mastering digital and media design. He suddenly went underground in September 2007 after Scotland Yard arrested a 23-year-old West Londoner believed to be tied to Younis Tsouli.

Scotland Yard believed that Tsouli participated in an alleged bomb plot they were investigating. British counter-terror agents and investigators stormed Tsouli’s top floor flat and discovered stolen credit card information which is believed to have funded much of his activities. They also found that the cards were used to pay American Internet providers on whose servers he had posted jihadi propaganda.

In addition, Tsouli Irhabi used countless other web sites as free hosts for material that the jihadists needed to upload and share. The true extent of his material distribution network is still not known. He is credited with the large scale distribution of a film produced by Zarqawi called “All Is for Allah’s Religion.”

His arrest struck a significant blow to al Qaeda’s cyber terrorism weaponry.

With cyber weaponry only requiring widely available knowledge and skills and the only equipment required a computer that can be purchased anywhere, cyber weapons proliferation cannot be controlled. These facts coupled with the recent cyber attacks on utilities that blackout cities and regions show this is a serious threat.

Spy-Ops profile on Irhabi 007:

Younes Tsouli is a 23-year-old male and studied computers at a London college. Tsouli is a computer nerd from Shepherd’s Bush, West London. He is the son of a Moroccan diplomat and arrived in London in 2001. He was recruited by al Qaeda in 2002 when he began his cyber campaign of propaganda and terrorist training. is online legend (cover name) was “Irhabi 007″ derived from combining the James Bond reference with the Arabic word for terrorist. He published a manual on computer hacking on one of the many al Qaeda’s web sites. He joined the closed message forum known as Muntada al-Ansar al-Islami that provided military instructions, propaganda and recruitment.

He became the web master for al-Ansat, a forum used by 4,500 extremists to communicate. He rose to become the top cyber jihadi expert and directed all Internet-related activities. He also posted a 20 page website hacking manual called “Seminar on Hacking Websites,” on the Ekhlas forum.

Tsouli used stolen credit card information on 37,000 cards to pay American Internet providers on whose servers he had posted jihadi propaganda. He was apprehended as he was in the process of building and deploying a new website called “YouBombIt.”

Captured in his London top floor flat was a PowerPoint-style presentation on how to build a car bomb. His capture led to the arrest of several Islamic terrorists around the world, including 17 men in Canada and two in the US.

His hacking skills are categorized as moderate to advanced compared to today’s standards. In December of 2007 his sentence was increased from 10 years to sixteen years in prison.

About these ads

Maret 4, 2008 - Posted by | TUGAS KONTEK

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: